Novel Sejarah
Novel Sejarah
Mikhael Satria A.S.S / XII MIPA
SMA Virgo Fidelis Bawen
Perkenalkan namaku Mikhael Satria
Agung Surya Santosa. Biasanya orang – orang memanggilku dengan nama Agung, tetapi
dilingkungan sekolah aku biasa dipanggil Satria. Perjalanan hidupku dimulai
pada 12 Juni 2003, yaitu saat ketika aku dilahirkan. Aku adalah anak kedua dari
dua bersaudara. Ayahku bernama Aloysius Eddy Santosa, yang bekerja sebagai
seorang wiraswasta, Ibuku bernama Lisa
Listiyawati, sebagai ibu rumah tangga, dan memiliki Saudara bernama Gabriel
Aldisa Bayu Santosa, yang bekerja disebuah perusahaan.
Pendidikanku dimulai saat masuk TK
Virgo Maria 1 diumur 4 tahun. Itu merupakan sekolah pertamaku. Pada awal masuk
sekolah aku sangat senang dan semangat ketika dirumah, akan tetapi beda dengan
kenyataannya. Aku takut dan menangis ketika sampai di TK Virgo Maria 1,
terlebih lagi ketika ditinggal orangtua keluar kelas. Seiring berjalannya waktu
aku mulai terbiasa, namun ada hal yang berbeda dari teman – teman yang lain.
Setiap masuk kelas, aku pasti digendong oleh guruku hingga doa pagi selesai,
baru setelah itu aku duduk dibangku.
Setelah lulus dari TK, aku
melanjutkan sekolah di SD Pangudi Luhur Ambarawa. Di masa SD inilah aku mulai fokus ke bidang
akademik. Hal yang paling diingat saat SD adalah ketika aku menulis catatan /
tugas dan ada sebuah coretan, halaman kertas
itu dirobek oleh guruku ketika disekolah dan dirobek oleh Ibuku ketika dirumah
untuk ditulis ulang. Hasilnya catatan / tugasku menjadi rapi dan pernah mengikuti lomba tulis
halus tingkat SD namun belum juara. Di masa SD inilah, aku mendapatkan piagam dan beasiswa pertama. Aku
mendapatkan piagam ranking 3
dikelas,beasiswa siswa berprestasi dan beasiswa BOS. Hal di SD yang bisa
membuat orangtuaku bangga adalah ketika hari kelulusan. Aku bisa mendapat surat
keterangan “LULUS” dengan nilai yang memuaskan, tak hanya itu aku juga bisa
mempersembahkan piala untuk orangtuaku
karena aku mendapat predikat
ranking 2 pararel Ujian Sekolah dengan rata – rata 90. Pada saat itu aku sangat bersyukur dan bangga karena bisa
membuat orangtua senang dengan prestasi yang aku raih.
Kemudian aku melanjutkan studi di
SMP Pangudi Luhur Ambarawa, yang letaknya berdekatan dengan SD Pangudi Luhur. SMP Pangudi Luhur merupakan
salah satu SMP favorit di Kab. Semarang, sehingga pada awal masuk sekolah aku
merasa tidak percaya diri karena banyak saingan dari sekolah lain. Terlebih
saat kelas 7, aku masuk ke dalam kelas unggulan yang membuat mentalku
tambah mengecil. Namun karena dukungan
dan bimbingan orangtua, aku mulai menjadi percaya diri dan mantap menjalani pelajaran
kelas 7. Di kelas 7 aku sudah berusaha
semaksimal mungkin belajar dengan giat, namun harus diakui jika temen sekelas
lebih pandai dan aku tidak masuk 10
besar.
Setelah naik ke kelas 8, aku masuk
ke kelas unggulan lagi. Namun dikelas ini aku mulai mengubah prinsip. Namun
dengan adanya perubahan prinsip inilah jugaada perubahan sikap. Ada sikap yang menjadi
positif dan negatif. Dikelas ini juga aku mulai menggeluti bidang olahraga,
yaitu tenis lapangan. Aku latihan tenis
lapangan di GOR SASANA AMBIRAWA RAGA, setiap minggu aku latihan 3x. Saat itu
aku mulai berpikir untuk bisa membagi waktu yang efektif untuk fokus ke bidang
akademik dan non akademik. Dengan bantuan orangtua, aku dibuatkan jadwal
sehingga tidak saling menumpuk dan mengganggu kegiatan yang satu dengan yang
lain. Saat kelas 8 aku lebih menekuni
bidang olahraga daripada bidang akademik. Aku pernah bolos selama satu minggu
untuk latihan tenis lapangan untuk menambah jam
terbang. Setelah bolos seminggu aku sampai dipanggil guru BK. Namun aku
harus bisa membuktikan bahwa usaha yang telah aku lakukan membuahkan hasil. Pada saat itu ada
kejuaran POPDA dan aku mendaftar cabang
olahraga tenis lapangan. Aku semakin rajin latihan tenis lapangan dan menambah
latihan fisik sendiri, pada saat itu juga aku meminta sepeda kepada orangtuaku agar bisa
menambah frekuensi latihan fisik. Di hari perlombaan, aku sangat gugup karena baru pertama kali mengikuti
lomba seperti itu. Tetapi aku harus
menghilangkan semua rasa gugup dengan semangat, hasilnya aku bisa mencapai semi
final. Di semi final saya menghadapi juara bertahan yang membuat mentalku
turun, aku berusaha semaksimal mungkin namun harus menelan kekalahan. Hasilnya
aku pulang membawa medali perunggu alias juara 3. Setelah kejadian itu, aku semakin rajin latihan dan latihan. Karena
rajin latihan aku diberitahu oleh pelatihk jika ada turnamen tenis lapangan junior tingkat nasional dan aku
disuruh mengikuti lomba tersebut. Kemudian aku mendaftar lomba tersebut. Karena
saingannya dari berbagai daerah, aku harus langsung menerima kekalahan. Parahnya,
selain langsung kalah raket tenis lapanganku juga patah, sehingga aku harus membeli raket tenis lapangan yang baru.
Anehnya lagi, dikelas 8 aku lebih fokus ke bidang olahraga namun saat
pengambilan raport saya mendapat ranking 3.
Aku dan orangtuaku terkejud karena bisa mendapatkan hasil yang
memuaskan selama kelas 8, yang berarti jadwal yang sudah dibuat membuahkan
hasil yang positif bagi bidang akademik dan bidang olahragaku.
Lanjut dikelas 9, aku kembali ke
kelas yang sama saat kelas 7. Teman – temannya pun sama semua. Di kelas 9 ini
aku mulai mengurangi intensitas olahraga tenis lapangan, karena di kelas 9
sudah tidak bisa mengikuti POPDA lagi dan harus berfokus untuk persiapan ujian.
Hari – hari pun berlalu seperti biasa, tidak ada hal yang terlalu berkesan
sampai persiapan ujan. Di saat persiapan ujian, aku ditawari banyak sekali
bimbingan belajar. Namun aku tidak mengambil bimbingan belajar satupun, karena
aku malas saat jam belajar bertambah. Aku merupakan tipe pelajar yang
hanya belajar ketika ada tugas atau ulangan, jika tidak ada tugas atau ulangan
aku tidak belajar. Saat persiapan ujian pun aku juga tidak rajin belajar, sehingga
banyak waktu terbuang untuk bermain game. Hingga saat tinggal satu bulan menuju ujian, aku baru mulai rajin
membaca dan mengerjakan latihan soal
dari modul – modul. Namun waktu satu
bulan tidak cukup untuk mengejar semua materi. Pada saat ujian sekolah, aku
kurang memahami pelajaran IPA sehingga nilai IPA yang kudapatkan pun mepet
dengan KKM sekolah. Tetapi pelajaran yang lain mendapatkan nilai yang memuaskan
bagi saya. Waktu Ujian Nasional pun datang, saat itu sekolahku menggunakan
ujian berbasis komputer yang membuat ujian dibagi menjadi beberapa waktu.
Kebanyakan aku mendapat waktu siang sehingga rasanya sudah malas karena sudah
lelah menunggu waktu ujian. Ujian hari pertama waktu itu Bahasa Indonesia, aku cukup percaya diri
mengerjakan soal ujian tersebut karena Bahasa Indonesia menurutku hanya butuh
pemahaman. Hari kedua ujian meruapakan pelajaran Matematika, kalau pelajaran Matematika aku
cukup menguasai sehingga tidak terlalu sulit untuk mengerjakan soal ujian
matematika. Di hari ketiga ujian mata pelajaran IPA, saat itu aku tidak paham
tentang materi IPA yang hitungan, tetapi untuk yang hafalan aku cukup menguasai.
Namun tak kusangka, soal yang keluar waktu itu kebanyakan soal hitungan
sehingga banyak soal yang aku tidak bisa dan mengarang indah jawaban untuk soal
yang aku tidak bisa mengerjakannya. Di hari terakhir adalah ujian mata
pelajaran Bahasa Inggris, aku cukup menguasai kosa kata yang membantuku
mengerjakan soal ujian dengan mudah. Semua ujian pun selesai, aku dan teman –
teman hanya menunggu hasil dari ujian – ujian yang sudah dilaksanakan. Kami
semua pun mengisi hari – hari menunggu hasil ujian dengan nongkrong – nongkrong
di warung dekat sekolah dan bermain game .
Hari kelulusan pun tiba, aku dan
teman – teman tidak sabar melihat hasil yang kami peroleh. Kami “LULUS” 100%
dan kami pun bangga dengan apa yang aku dan teman – teman peroleh. Saat aku
melihat hasil yang aku peroleh, aku tidak menyangka hasil yang kudapatkan
memuaskan.
Setelah kelulusan, aku pun bingung
untuk lanjut ke SMA mana dan mengambil jurusan apa. Aku kemudian berfikiran
untuk mendaftar di sekolah yang aku minati yaitu SMA Don Bosco Semarang. Lalu
aku mendaftar disana lewat jalur prestasi, tak lama berselang aku dinyatakan
diterima di SMA Don Bosco. Aku sangat senang dan banyak temanku yang mendaftar
disana juga, sehingga saat wawancara pertama aku sangat semangat dan melakukan
wawancara semaksimal mungkin. Dua minggu kemudian, orangtuaku dipanggil untuk
wawancara kedua. Di wawancara kedua, membahas tentang biaya – biaya yang
berhubungan dengan awal sekolah dan lain – lain. Orangtuaku pun berangkat untuk
membahas itu. Setelah pulang dari wawancara, orangtuaku berkata kepadaku supaya
bisa merelakan sekolah itu. Aku bertanya kepada orangtuaku kenapa aku harus
merelakan sekolah itu ? Ternyata biaya
yang ditanggung cukup besar, sehingga orangtuaku harus berfikir dahulu karena
juga ada kebutuhan yang lain. Terlebih saat itu, bus putra palagan sudah tidak
beroperasi lagi dan hanya tinggal BRT. BRT pun terletak di Bawen yang membuat
aku harus bangun lebih awal untuk bisa naik BRT tersebut, padahal aku orang
yang susah bangun pagi. Aku pun berdebat dengan orangtuaku berhari – hari untuk
masuk ke sekolah mana. Akhirnya pun aku melepaskan SMA Don Bosco, yang kemudian
membuatku tambah bingung masuk ke sekolah mana. Aku pun mencari tahu SMA di internet,
namun hasilnya tidak ada. Aku akhirnya dipilihkan SMA oleh Ayahku, namun aku
tidak minat masuk ke sekolah tersebut. Sekolah SMA itu adalah SMA Virgo Fidelis Bawen. Aku pun sempat
menolak masuk ke SMA itu namun Ayahku menyuruhku masuk ke sekolah tersebut.
Akhirnya aku pun membuat perjanjian dengan Ayahku, jika aku masuk ke SMA
tersebut, nanti saat kuliah aku boleh menentukan aku kuliah dimana saja tanpa
ada campur tangan dari Ayahku. Perjanjian itupun akhirnya disetujui oleh
Ayahku. Akhirnya aku mendaftar di SMA Virgo Fidelis Bawen. Saat mendaftar, aku
langsung disuruh tes. Karena tidak ada persiapan sama sekali aku pun
mengerjakannya asal – asalan sehingga nilai yang kuperoleh sangat jelek. Aku
mendaftar melalui nilai UN sehingga aku mendapat potongan karena nilai UN ku
cukup bagus.
Aku pun diterima di SMA Virgo
Fidelis Bawen. Karena aku kurang minat terhadap sekolahnya, aku pun menjalani
MPLS dengan tidak semangat, seperti
terpaksa menjalaninya. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus bisa konsisten dengan
apa yang telah kuputskan. Hari – hari pun berlalu, kemudian ada tes psikotes
untuk penjurusan. Aku waktu MPLS memiih jurusan MIPA dan aku harus mengerjakkan
tes psikotes yang berhubungan dengan MIPA. Saat hasil psikotes keluar, ternyata
aku masuk ke penjurusan IPS, namun aku tertolong oleh nilai IPA dan MAT dari
raport SMP sehingga aku bisa masuk ke jurusan MIPA.
Saat masuk ke kelas MIPA, ternyata
hanya ada satu kelas MIPA saja yang
berarti aku akan bertemu dengan teman yang sama selama 3 tahun. Saat
pertama kali masuk ke kelas MIPA aku merasa aneh, karena wajah dari teman –
teman serius semua. Hari – hari pun berlalu seperti biasa, hingga ada kejuaran
POPDA SMA. Aku pun mendaftar cabang olahraga tenis lapangan. Akan tetapi
setelah aku mendaftar POPD, tiba – tiba guruku memberi tahu jika aku
didaftarkan mengikuti Olimpiade Fisika. Aku pun terkejud dan ingin menolak itu,
karena aku tidak suka jam pelajaran tambahan sepulang sekolah. Aku lebih fokus
latihan tenis lapangan daripada belajar untuk persiapan olimpiade. Di hari
kejuaraan POPDA aku sangat percaya diri untuk menghadapi lawan – lawanku,
karena jam terbang latihanku menurutku sudah cukup. Aku pun bertanding dan bisa
sampai ke final. Di partai final sempat turun hujan yang membuat lapangan basah
dan angin sangat kencang, akhirnya pihak panitia pun mengajak semua peserta
berdiskusi. Aku sempat usul agar pertandingan ditunda besok hari, tetapi banyak
anak yang lain tidak setuju dan akhirnya pertandingan dilaksanakan hari itu
juga. Partai final pun dimulai, aku bertanding melawan siswa dari SMANSA
Ungaran. Selama 30 menit pertandingan berlangsung sengit dan saling bertukar
poin, hingga dalam waktu sekejap semua itu berubah. Angin menjadi kencang dan
aku pun tidak bisa mengkontrol laju bola. Bola sering keluar lapangan karena
terbawa angin, yang akhirnya membuatku
kalah dan mendapat medali perak. Aku pun bangga dengan diriku sendiri
meskipun agak kecewa dengan panitia POPDA karena memaksakan pertandingan dengan
kondisi cuaca seperti itu.
Keesokan harinya aku berangkat
sekolah dan banyak guru dan teman –
teman yang memberiku ucapan selamat. Tak lama kemudian aku dipanggil oleh
guruku, ternyata aku disuruh mulai fokus dengan persiapan olimpiade. Aku pun
seperti terpaksa mengikuti olimpiade tersebut, dan hasilnya saat olimpiade tiba
pun aku mendapat nilai 0. Hari – hari berlalu seperti biasa hingga kenaikan
kelas.
Saat awal kelas XI, ada upacara
untuk awal pelajaran. Diakhir upacara ternyata ada pembagian piagam bagi 3 anak ranking tertinggi dikelas masing
– masing. Tak kusangka aku mendapat
ranking 1 dan aku sangat senang dengan prestasi yang kuraih dikelas X.
Aku pun menjadi semangat baru saat berada dikelas XI, aku harus bisa meraih
prestasi yang lebih dari kelas X.
Awal – awal dikelas XI tidak ada hal
/ kejadian yang istimewa. Hingga ada event POPDA dan aku mendaftar lagi.
Saat POPDA kelas XI persiapannya agak
kurang karena tugas dan ulangan banyak, hingga saat POPDA aku juara 2 lagi dan
mendapat medali perak. Dikelas XI ini aku juga mengikuti organisai Bantara, ini
merupakan organisasi pertama yang aku ikuti. Organisasi ini mengurus tentang
pramuka dan aku aku menyukai pramuka di SMA ini, padahal saat SD – SMP aku
sangat tidak suka dengan pramuka. Saat pelantikan Bantara ada kejadian yang
lucu, yaitu saat jalan malam aku
tersesat karena saat aku lewat tidak ada yang jaga di pos sehingga aku
salah jalur. Untungnya aku bisa kembali bertemu dengan
teman – teman yang lain meskipun aku harus lari – lari. Pelantikan Bantara pun
selesai dan aku dan teman – teman sangat
senang. Tak lama setelah pelantikan Bantara, aku ditunjuk lagi untuk mengikuti
olimpiade fisika. Tapi anehnya aku tidak pernah ada bimbingan belajar untuk
persiapan olimpiade. Aku pun juga tidak belajar karena saat aku bertanya pada
guru olimpiade masih lama. Beberapa hari kemudian guruku memberitahu bahwa
olimpiade dilaksanakan keesokan harinya, dihari itu juga aku dan teman – teman
langsung diberi buku bimbingan dan langsung belajar untuk olimpiade dengan
hanya kurang dari satu hari. Aku pun tidak suka dengan prinsip dan cara
mengajar guruku karena guru memaksakan kita mengikuto olimpiade dengan
persiapan yang sangat kurang tetapi meminta kita harus menang di olimpiade
tersebut. Akhirnya aku dan teman – teman mengikuti olimpiade tersebut tetapi
tidak mengetahui hasil yang kami peroleh. Hari berlalu seperti biasa, hingga
ada suatu kejadian yang membuat semua kegiatan terganggu. Kejadian itu adalah
pandemi virus corona yang berdampak negatif disemua bidang. Aku pun
menghabiskan semester 2 kelas XI hanya dirumah melalui daring. Namun dengan
berkat Tuhan aku bisa mendapat ranking satu dikelas XI dan sekarang naik ke kelas XII. Di kelas XII ini pun masih
pembelajaran daring, sehingga pembelajaran menjadi lebih sulit dan tidak
efektif. Aku dan teman – teman seluruh
Indonesia harus bisa sabar dan tetap semangat menjalani sekolah dan kondisi
seperti ini sampai semuanya pulih dan kembali normal.
Komentar
Posting Komentar